Tri pusat pendidikan Ki Hajar Dewantara menyatakan bahwa pendidikan merupakan tanggung jawab bersama yang melibatkan sekolah, keluarga, dan masyarakat. Keberhasilan pendidikan ditentukan oleh sinergi dan kerjasama oleh ketiga pihak tersebut. Masing-masing memiliki peran yang unik. Keluarga sebagai pendidik pertama dan utama untuk membangun karakter dan moral, sekolah untuk menyediakan pendidikan formal dan pengetahuan, serta masyarakat untuk mendukung proses pendidikan dan menjadi sumber belajar.
Ironisnya konsep mulia tersebut terkadang belum dipahami dengan baik oleh masyarakat luas. Masih ada orang tua yang memiliki anggapan bahwa pendidikan sepenuhnya menjadi tanggung jawab sekolah. Mereka (para orang tua) banyak yang masih memiliki mindset tugasnya adalah mencari uang dan membiayai keperluan anaknya tanpa memperhatikan bagaimana membangun kedekatan komunikasi bersama anak, menjadi contoh (role model) yang baik bagi anak, serta mengajarkan tentang karakter, budi pekerti, dan akhlak yang mulia kepada anak. Mendidik anak di era digital memiliki tantangan yang tidak mudah. Keterbukaan arus komunikasi, pesatnya perkembangan teknologi menjadi pekerjaan rumah yang tidak mudah bagi sekolah dan orang tua.
Menanggapi fenomena tersebut, SMPN 7 Kota Surakarta menyelenggarakan Parenting Education bagi orang tua kelas 7 pada Rabu, 26 November 2025. Dengan mengusung tema “Mendidik Anak Generasi Z di Era Digital”, kegiatan ini menghadirkan narasumber seorang pakar parenting sekaligus akademisi yaitu Prof. Dr. Eny Purwandari, S.Psi, M.Si. Acara diawali dengan menyanyikan Lagu Kebangsaan Indonesia Raya dilanjutkan dengan ucapan selamat datang dan laporan ketua panitia, Agung Wijayanto, S.Psi.,M.Pd. “Kami mengucapkan selamat datang kepada Bapak/Ibu orang tua kelas 7 yang telah berkenan hadir memenuhi undangan kami, mohon maaf jika menyambut kedatangan Bapak/Ibu banyak hal yang kurang berkenan,”ujarnya.
Herni Budiati, S.Pd., M.Pd selaku Kepala SMPN 7 Kota Surakarta juga menegaskan pentingnya kegiatan ini. “Ilmu menjadi orang tua, bagaimana mendidik anak yang baik tidak ada mata kuliahnya, sejak saya kuliah S1 dan S2 tidak pernah mendapatkan ilmu ini. Padahal ilmu ini sangat dibutuhkan dalam mendampingi putra putri kita, mohon Bapak/Ibu dapat mengikuti kegiatan ini dengan baik, kami menghadirkan pakar yang dapat panjenengan ajak untuk konsultasi,” ujar Herni. Kepala sekolah juga mengapresiasi kepada orang tua yang di pagi hari tersebut menyempatkan hadir. “Kehadiran Bapak/Ibu disini menunjukkan bahwa Bapak/Ibu memiliki perhatian dan sayang kepada anak-anak kita,”imbuhnya.
Pada acara inti, narasumber memaparkan pentingnya membangun komunikasi dengan anak. Prof. Eny memulai dengan pertanyaan kepada Bapak/Ibu yang hadir; Siapakah Bapak/Ibu yang memiliki instagram? Siapakah Bapak/Ibu yang memiliki facebook?, siapakah Bapak/Ibu yang memiliki nomor Whatsapp? Selanjutnya narasumber bercerita bagaimana pengalamannya mendampingi anaknya yang berjumlah tiga orang sebagai motivasi kepada hadirin yang hadir. Mendidik anak di era digital memiliki tantangan lebih. “Oleh karena itu mendidik anak di era digital saat ini kita beri anak ruang kebebasan tetapi diberi batasan,” ujarnya. Selanjutnya narasumber memaparkan materi parenting di hadapan ratusan orang tua yang hadir. Pembawaan yang interaktif dari narasumber menjadikan suasana kegiatan lebih hidup, menghidupkan aula sekolah yang menjadi tempat kegiatan berlangsung. Setelah pemaparan materi, kegiatan dilanjutkan dengan diskusi interaktif bersama dengan hadirin yang hadir. Acara ditutup pada pukul 12.00 WIB dengan foto bersama.
Semoga hadirnya Parenting Education yang diselenggarakan SMPN 7 Kota Surakarta mampu menggugah kesadaran pentingnya komunikasi, kolaborasi, dan sinergi antara sekolah, orang tua, dan masyarakat sehingga tujuan-tujuan pendidikan dapat tercapai. Tanpa adanya keterkaitan dan kerjasama dari ketiga penyangga pendidikan tersebut maka pencapaian tujuan pendidikan hanyalah khayalan belaka. (DE/red).












